" Sebuah kisah cinta antara
Elina seorang gadis lumpuh dan
Wildan seorang penderita AIDS,
Bagaimana mereka
menunjukkan pada dunia, Tidak
ada yang berbeda dengan apa
yang orang lihat, mereka
hanyalah manusia yang
berusaha untuk diakui sebagai
bagian dari masyarakat"
Seorang gadis berusia 23 tahun.
Bekerja sebagai sekretaris
sebuah perusahaan seluler. Ia
memiliki seorang kekasih
bernama Rudi. Elina begitu
bergembira saat pulang dan
memeluk ibunya.
“ Bu, Rudi akan melamarku
malam ini dan kami akan
bertemu di taman kota, tempat
dimana pertama kali kami
bertemu..” kata Elina pada
ibunya.
“ Bagaimana kamu yakin
nak?”
“ Tentu saja aku yakin, sebab
kami sudah merencanakan itu,
dan Rudi bilang malam ini ia
akan melamarku..”
“ Kalau begitu lekaslah kamu
pergi dan berganti pakaian
terbaikmu..”
Elina bergembira karna malam yang
ia tunggu selama mereka
berpacaran lebih dari 3 tahun
kini menjadi akhir dari kisah
cinta mereka.
Tentang Wildan.
Wildan berumur 25 tahun. Pria
playboy dan terlahir dari
keluarga jutawan.Jam
menunjukan pukul 7 malam.
Tiba-tiba pintu kamarnya
terdengar ketukan. Wildan
sedang tertidur, ia bangun dan
membuka pintu dengan wajah
kesel. Seorang ajudan ayahnya
terlihat didepan pintu.
“ Kenapa sih? Ganggu orang
tidur aja..!!!”
“ Maaf tuan, Ayah anda sudah
menunggu di ruang tamu untuk
makan malam keluarga.”
“ Bilang padanya, aku ada
dibawah sebentar lagi..” Kata
Wildan tidak melawan.
Ajudan itu pergi, Wildan
merapikan mukanya yang kusut
karena semalam ia baru saja
pergi dugem dan pulang pukul
7 pagi, setelah rapi ia pun
langsung ke bawah menemui
ayahnya di meja makan.
Bersama ibu dan kakaknya Dina. Ia duduk begitu saja.
“ Begini cara kamu
membesarkan anakmu? Pagi
jadi malam, malam jadi pagi. “
kata ayahnya ketus.
“ Sudahlah pak, Wildan ayo
makan.”
kata ibunya
Dengan setengah hati Wildan
makan. Tapi baru mencicipi
sedikit sarapan. Ia sudah
menghilang dengan wajah kesel
ayahnya. Wildan pergi dengan
mobil BMWnya menelusuri jalan
yang sudah penuh dengan
lampu warna warni. Kota ini
akan merayakan Valentine dalam
waktu beberapa hari lagi.Ia
hanya berujar dalam hati.
" Ayahku kaya, untuk apa
berkerja. Tujuh turunan pun
tidak akan pernah habis."
Seorang gadis menelepon
padanya. Tampaknya gadis itu
adalah incarannya untuk malam
ini, Mereka tampak asyik sibuk
berbicara bersamaan, Ditengah
jalan.
Kembali ke Elina.
Ibunya sudah berdiri di depan
pintu. Elina menyalakan motor
"Mio Soul"nya. Lengkap dengan
pakaian terbaiknya.
" Aku pergi dulu ya.."
" Kenapa tidak kamu minta di
jemput saja." Tanya ibunya.
" Tidak apa bu, Rudi
langsung pulang kerja. Kan nanti kena macet. Lagi pula aku ingin
pergi masing-masing saja. Jadi
bertemu disana."
" Ya, sudah nak. Hati hati ya."
Elina pun melaju motornya
sambil membayangkan apa
yang akan terjadi dalam hari
terindahnya.
Kembali ke Wildan.
Wildan tampak tertawa, gadis itu
membiuskan kata-kata indah di
telinganya. Ia selalu ingat jika ia
bisa memberikan apapun yang
diinginkan oleh gadis yang
menyukainya, ia rela
memberikan uang , permata
ataupun emas yang diingkan.
Saat ia berjalan, ia tidak
menyadari lampu merah
diatasnya. sebuah "Mio Soul" yang
melaju di lampu hijau. Wildan
terkejut, mobilnya melaju.
Menabrak "Mio Soul" itu hingga
terpental 10 meter jauhnya.
Yang ia ingat, seorang gadis
terkujur kaku dijalan. Hatinya
risau, apakah ia harus melihat
korban itu. Atau melarikan diri,
tapi ia tau. Bila ia mendekat,
maka ia akan membuat masalah
dengan dirinya sendiri diantara
kerumunan orang yang mulai
mendekati korban.
Ia pun memutuskan satu
kenyataan— lari dari kejadian
itu.
Tentang Rudi.
Ia menunggu tanpa adanya
kejelasan ditaman. Hatinya
cemas, ia mencoba menelepon
Elina berulang-ulang tapi sama
sekali tidak diangkat. Satu jam
berlalu, hatinya mulai cemas. Ia
berpikir, Elina menolak dirinya.
Hingga ia menelepon terakhir
kali dan mendapatkan suara
asing, suara seorang pria yang
mengatakan kalau gadis yang
memiliki hendphone itu. Sedang
dirawat dalam ruangan unit
gawat darurat. Ia langsung menuju
rumah sakit, menyimpan cincin
tunangan untuk Elina. Saat ia
tiba, ibu Elina tampak berdiri
dengan tangisan khawatir.
Kembali ke Wildan.
Ia mulai sadar, banyak saksi
yang melihatnya dengan nomor
mobilnya. Ia ceritakan masalah
ini kepada ayahnya. Ayahnya
meminta ia bertanggung jawab,
tapi ibunya menolak. Ia sadar
putranya bisa berada di penjara
bila ia menyerahkan diri. Uang
tidak berarti bagi putranya
untuk lepas dari Penjara. Satu
keputusan saat itu juga. Wildan
harus pergi keluar negeri.
Melarikan diri dan membuat alibi
dengan orang lain yang berada
di mobil, dengan uang ayahnya
bisa membayar orang lain untuk
berpura-pura mengaku
melakukan perbuatan yang
tidak ia lakukan.
Valentine terlewatkan dengan
masalah diantara ketiganya.
Rudi bersedih dengan
keadaan kekasihnya. Elina tidak
pernah tau keadaanya, Wildan
melarikan diri dengan rasa
gundah dan bersalah.
2 bulan berlalu.
Elina masih berada di rumah
sakit. Ia mulai sadar, tapi
kakinya telah dinyatakan hilang.
Ia harus mengalami
kelumpuhan di kedua kakinya.
Rudi menemani kekasihnya.
Memberikan dukungan batin
dan kekuatan yang tidak bisa
Elina bayangkan untuk hidup.
Elina pun berusaha menerima
kenyataan bahwa kini ia cacat.
Wildan berada di Australia
menghabiskan waktunya
dengan minum dan minum
untuk melepas kegelisahan
hatinya.
6 bulan berlalu.
Elina berdiri untuk pertama
kalinya dari kursi roda. Rudi
menopang kakinya untuk
berjalan. Walaupun merasa
berat di hatinya. Ia sadar ia tidak
akan pernah menjadi normal.
Wildan semakin gelisah, ia ingin
pulang. Ibunya bilang padanya
tunggulah hingga 6 bulan ke
depan. Hanya satu yang ingin ia
tanyakan
" Ibu bagaimana keadaan
korban yang aku tabrak?"
" Dia tidak mati, ia masih
hidup."
" Syukurlah, tapi aku tetap
ingin tau."
" Kamu akan tau kelak bila
kamu pulang, lebih baik kamu
tetap disana hingga kasus ini
ditutup." kata ibunya.
1 tahun berlalu.
Elina mulai bisa berjalan
dengan menggerakan kursi roda
lewat tangannya. Rudi
mengajaknya untuk bertemu
orang tuanya. Apa yang ia
dapatkan saat ia sedang duduk
di sofa ruang tamu. Tanpa
sengaja ia mendengar apa yang
ibu Rudi katakan.
“ Ibu tidak ingin punya
menantu lumpuh dan cacat
seperti itu.”
“ Ibu kenapa bilang begitu,
bagaimanapun dia adalah Elina
yang sama, sama seperti saat
aku membawanya pertama
kali.”
“ Berbeda. Ia gadis cacat..
bukan gadis cantik yang dulu
kamu bawah.”
Keduanya bicara, dan Elina
mendengar. Ketika mereka
sadar. Elina telah mengatakan
satu hal yang begitu berat
untuknya.
" Maafkan aku, mulai saat ini
aku akan melepaskan Rudi
untuk selamanya.”
Rudi berusaha untuk tetap
bertahan, tapi akhirnya ia pun
menerima keputusan Elina.
Wildan telah kembali setelah ia
mendapatkan kepastian kalau
kasusnya telah kelar dengan
orag lain yang bersedia
mengantikan dirinya di penjara.
***
Elina mencoba untuk bekerja
normal. Ia tidak akan ditolak di
kantor lamanya, tapi dengan
kaki yang pincang dan
terkadang harus mengunakan
kursi roda. Ia merasa seperti
seorang yang tak berguna,
hanya bisa merepotkan
siapapun. Ketika ingin naik
escalator ataupun menaikin
tangga semuanya terasa berat.
Setiap malam ia hanya bisa
menangis, melihat keadaanya,
ibunya menyadari keadaan
putrinya, hatinya pun perih tapi
hanya bisa berharap tuhan
memberikan kekuatan untuk
anak semata wayangnya setelah
ayah Elina meningal.
Wildan berhasil mendapatkan
apa yang ia ingin tau, tentang
korban yang selalu
membayangin dirinya. Dan
sumber informasinya
mengatakan tentang gadis itu.
Ia mendapatkan kantor Elina. Ia
segera menuju kantor itu yang
ternyata merupakan bagian dari
perusahaan ayahnya. Saat itu ia
melihat Elina tampak berusaha
menaiki tangga. Hatinya
tergerak untuk mendekat.
Membantu mendorong kursi
rodanya.
" Terima kasih.." Kata Elina
padanya.
Wildan terdiam, hatinya begitu
pilu melihat Elina yang begitu cantik
tapi jadi cacat karenanya.
" Tidak masalah."
" Kamu kerja dikantor ini lantai
berapa? "
" Lantai 3."
" Kamu?” Tanya Elina balik.
Wildan bingung menjawab
pertanyaan Elina, ia tidak
pernah berkerja hingga akhirnya
ia mengarang sebuah kisah.
" Aku baru kerja disini, di lantai
dua,"
" Oh ya..:"
" Andai saja aku di lantai satu,
pasti aku ga perlu repotin orang
hehehe. Jadi ga enak hati.."
kata Elina.
Meraka tiba di eskalator. Sekali
lagi Elina mencucapkan terima
kasih pada pria itu. Wildan pulang
saayt itu pula dengan wajah
bersedih. Ia ingin menangis
melihat dosa yang ia lakukan
pada Elina. Ia pulang kerumah
ayahnya dan meminta
perkerjaan di kantor itu.
Ayahnya begitu heran dengan
sikap putranya tapi menerima
keputusan Wildan. Ia langsung
menjadi direktur dalam
perusahaan itu. Dalam satu hari
ia memutusan untuk
memindahkan kantor dimana
Elina bekerja dari lantai 3 ke 1.
Setiap harinya ia selalu
memandangin Elina saat ia
bisa, ia tak pernah mengalami
satu keadaan yang begtu sulit
dalam hidupnya. Ia
memutuskan untuk mendekati
Elina, mencoba untuk
mengatakan satu kejujuran yang
tak bisa ia ucapkan saat ini.
Tentang hal yang membuat
Elina menjadi seperti saat ini.
Dari hari ke hari, mereka
semakin dekat. Wildan membuat
banyak kemudahan di kantor
untuk Elina agar bisa
mengunakan kursi rodanya
secara bebas. Ia makan bersama
Elina di kantin yang tidak
pernah ia jamah sebelumnya.
Mengenang sosok Elina yang
berhati mulia, sosok yang
rendah hati dan menerima
kenyataan hidupnya sebagai
gadis cacat.Suatu hari karena
bosan, Wildan mengajak Elina untuk makan di luar.
" Makan denganku di luar?
Tidak salah kamu kan direktur
disini?"
" Emangnya direktur tidak
boleh makan bersama kamu."
" Bukan begitu, aku hanya
takut merepotkan direktur bila
jalan bersamaku. Kota ini tidak
ramah dengan kursi roda, aku
tidak ingin merepotkan direktur
bila jalan bersamaku hingga
harus mendorong kursi ini."
" Tenang saja, ayo katakan apa
yang ingin kamu makan, ini
perintah dari Direktur jangan
pernah menolak!! " hehehe " Baiklah. Aku ingin makan
Sushi Tei, sungguh aku sudah
lama tidak pernah makan
disana."
" Kalau begitu ayo kita
makan."
Mendengar Elina ingin makan
sushi tei, Wildan langsung
meminta ajudan ayahnya untuk
membooking semua kursi yang
ada di restorant itu hanya untuk
mereka. Ketika Elina tiba di
sushi tei, ia terkejut melihat
restorant itu hanya ada mereka
berdua. Ia hanya mendengar
kata terakhir Wildan.
" Makanlah semua yang kamu
inginkan.."
Mereka pun makan dengan
lahap. Wildan begitu menikmati
keadaanya bersama Elina,
hingga mereka menyadari kalau
Valentine akan datang dalam
beberapa minggu lagi.
" Kalau Valentine nanti, apa yang
kamu inginkan Elina? ."
" Aku kalau Valentine selalu
meminta banyak hal, tapi
sayangnya tidak pernah terjadi
tuh. "
" Kalau begitu katakan lah, aku
ingin tau.."
" Sungguh kamu ingin tau? "
" Tentu saja aku ingin tau..
ayolah sebutkan."
" Aku ingin bisa berjalan
lagi.." Wildan tertegun, hatinya miris
dan wajahnya
menunduk.Tadinya ia berpikir
ingin memberikah hadiah
kepada Elina, apapun yang
Elina inginkan. Kini mendengar
permintaan sulit itu, ia bersedih.
" Adakah hal lain yang bisa
kamu katakan selain itu,? "
" Tidak ada, aku tidak ingin
meminta soalnya. Kamu tahu
tahun lalu ketika aku sudah
meminta eh tiba-tiba malah ga
pernah terjadi.."
" Kalau boleh tau, kamu tahun
lalu minta apa?"
Angel tertunduk, ia sadar Valentine tahun lalu begitu kelabu, ia
meminta Rudi meminangnya
dan semua benar-benar gagal.
" Aku tidak bisa katakan, itu
sudah menjadi masa lalu, kalau
kamu? Katakan dong apa yang
kamu mau? "
Wildan mendekat kepada Elina,
matanya tampak serius.
" Aku tidak ingin apa-apa
selain hanya bisa melihatmu
tersenyum. Itu sudah cukup buatku."
Elina pun tertawa. Mereka
melewatkan makan siang itu
begitu gembiranya. Setelah
makan siang, Elina turun ke
loby. Saat itu Wildan hendak
menggendong tubuh Elina ke mobil. Tanpa sengaja Elina
melihat Rudi sedang bersama
wanita lain melewati mereka.
Elina terdiam melihat mantan
kekasihnya, Begitu pun Rudi.
Hanya Wildan dan kekasih
Rudi yang tak mengerti apa
yang membuat keduanya saling
bertatapan.
Rudi pun berjalan dan masuk
ke mobil. Elina melihat Rudi pergi darinya. Ketika ia di mobil,
ia menangis. Wildan begitu
bingung. Dan bertanya apa yang
terjadi. Elina pun mengatakan
satu hal tentang Valentine tahun lalu
dan harapannya.
" Aku ingin menikah, tapi
kekasihku tidak bisa karena aku
sudah menjadi cacat.."
Wildan hanya terdiam, hatinya
semakin tak berdaya.
****
Valentine telah tiba, Wildan mulai
mengerti satu alasannya untuk
menjadi seorang pria pada
utuhnya. Ia memberikan hadiah
kepada Elina, sebuah hadiah yang mungkin terlalu berharga
untuk Elina. Sebuah kalung
berlian di leher Elina. Wildan menyadari satu hal, ia mulai
mencintai Elina. Ada yang harus
ia katakan di acara makan
malam Valentine bersama mereka.
Di atas meja makan dengan lilin
merah menyala, Wildan
menyatakan cinta kepada Elina. " Apakah kamu yakin ingin
menjadi kekasih dari seorang
gadis cacat sepertiku?
" Aku berjanji dalam hatiku
dan atas nama Tuhan kalau aku
bersungguh-sungguh ingin
menjadi bagian dalam hidupmu
Elina, apapun yang terjadi
dengan keadaanmu, kamu
adalah gadis yang kuinginkan
dalam hidupku, sekarang dan
selamanya."
Kalimat itu membuat Elina
begitu bahagia, walaupun ia
ragu pada awalnya. Pada
akhirnya Wildan benar-benar
membuktikan satu hal kepada
Elina. Ia benar-benar mencintai
gadis itu.Mereka pun berpacaran
secara resmi. Keluarga Wildan
yang tidak pernah melihat
Wildan demikian berubahnya
dalam hidup menyambut
kegembiraan putranya begitu
bahagia.Suatu ketika dimalam
hari, Elina merasakan hidayah Tuhan, tiba-tiba jari kakinya
mampu bergerak. Ia mulai
menyadari satu hal, kalau ia
mulai bisa merasakan kakinya
kembali setelah lama lumpuh
tanpa bergerak.
Wildan tidak pernah mengerti.
Mengapa tubuhnya semakin
lama semakin lemas. Hingga
akhirnya ia jatuh sakit. Ia
terdampar di rumah sakit. Elina
datang dan membuat keluarga
Wildan begitu terkejut.
" Siapa dia ? " Tanya ibu
Wildan pada Wildan yang
terbaring ketika Elina
bersamanya.
" Ini kekasihku bu.."
Keluarga Wildan terdiam. Ia tidak
pernah meyangka kalau anaknya
punya pacar yang cacat. Semua
bisa menebak kalau tentu saja
keluarga Wildan tidak pernah
bisa menerima hubungan
mereka. Tapi Wildan tidak peduli.
Saat itu, setelah keluar dari
rumah sakit. Ia benar-benar
mendapatkan hadiah terburuk
dalam hidupnya. Wildan positif kena
HIV. Sebuah kenyataan yang
begitu pahit dalam hidupnya,
entah gadis mana yang ia tidurin
dan menularkan penyakit itu
padanya.
Ia paham hidupnya seperti
kiamat. Tapi dalam kesempatan
itu, ia terus berjuang untuk
hidup. Elina mengatakan pada
Wildan kalau kakinya mulai bisa
bergerak. Wildan melihat itu
sebagai keajaiban, ia pun pergi
memeriksa keadaan kaki Elina
dan dokter mengatakan
kemungkian sembuh normal
adalah 20 persen. Berita yang
indah untuk Elina, tapi
sayangnya dokter mengatakan
harus segera dilakukan operasi
untuk membuat kakinya
menjadi normal karena ada
beberapa bagian urat pada kaki
Elina yang harus di ganti.
Wildan memutuskan untuk
membawa Elina ke rumah sakit
terbaik di dunia. Elina menolak
pada awalnya tapi inilah yang
terjadi di malam sebelum itu
semua terjadi.
" Angel, aku selalu ingat
keinginan kamu di hari Valentine.
Kamu ingin berjalan. Tuhan
telah mendengarkan impianmu
itu, sekaranglah jalanmu. Kamu
harus ikut aku pergi. Lakukan ini
untuk kebahagiaanmu, jangan
pikirkan biayanya karena aku
bisa membantu."
" Tapi kamu terlalu baik
untukku, aku tidak ingin
berhutang budi."
" Kamu tau, aku juga punya
keinginan harapan saat Valentine yang lalu. Kamu ingin tau?” jelas
Wildan.
“ OK katakan.”
“ Aku ingin kelak meihat kamu
berjalan dan aku bisa bahagia
bersamamu setelah itu dan..?”
“ Dan apa?”
“ Akan kukatakan kalau kamu
sudah mau ikut aku ke luar negri untuk
menyembuhkan kakimu,”
“ Baiklah..”
Mereka pun berangkat. 3 bulan
sebelum Valentine. Operasi berjala
n
dengan baik, tapi keadaan
Wildan yang terlalu lelah
membuatnya semakin
buruk.Tapi lelahnya itu dibayar
dengan semangat Elina yang
ingin sembuh dan berjalan di saat
Valentine. Semua terjadi, semua
yang dilakukan dokter berhasil.
Elina pun sembuh, ia mulai bisa
berjalan dengan perlahan.
Wildan yang setia menjaganya
selalu ada disampingnya.
Hingga Valentine pun tiba. Elina
berdua dengan Wildan. Di
sebuah tempat yang indah.
wajah Wildan begitu pucat.
Wildan pun meneruskan apa
yang hendak ia katakan kepada
Elina sesaat sebelum Elina di
operasi.
" aku sudah maafkan kamu
sejak kita bertemu..?" kata
Elina yang membuat Wildan
bingung.
" Kamu maafkan untuk apa?"
" Kamu tidak perlu katakan apapun, aku sudah memaafkan
dan mencintai kamu dengan
setulus hatiku."
" Elina, bagaimana kamu bisa
tau? "
" Aku tidak akan pernah lupa
kejadian itu, sesaat sebelum
kejadian itu aku melihatmu.
Walau samar-samar aku bisa tau
itu kamu."
" Aku benar-benar menyesal
. Elina, maafkan aku.."
" Lupakan semuanya Wildan.
Aku selalu menerima keadaan ini
sebagai takdir. "
" Elina ada satu hal lagi yang
ingin kamu tau..”
“ Katakan Wildan?”
“ Aku positif HIV..”
Elina terdiam. Dan ia
mengatakan satu hal untuk
Wildan.
“ Ketika kamu melihatku
sebagai gadis cacat, kamu tidak
pernah merasa malu ataupun
merasa takut bila aku
merepotkan kamu. Aku begitu
tersentuh, setiap manusia
memiliki sisi yang tak bisa ia
hindarkan tentang ketakutan
akan petaka. Tapi kamu berbeda
Wildan, kamu menyadarkan aku
untuk kuat, oleh karena itu,
walaupun kamu menderita HIV,
kini saatnya aku melakukan hal
yang sama!”
“ Kenapa kamu mau? Kamu
tidak takut padaku.”
“ Karena inilah takdir kita,
apapun yang terjadi dengan
keadaanmu. Kamu adalah
bagian dalam hidupku yang
akan selalu ada. Aku akan selalu
ada disampingmu..”
Wildan dan Elina menikah
beberapa bulan kemudian.
Setahun kemudian Elina sudah
bisa berjalan tanpa tongkat, dua
tahun kemudian. Mereka
melahirkan anak dengan
ajaibnya normal tanpa penyakit
apapun. Tiga tahun kemudian di
Valentine 2010., Wildan meninggal
karena penyakitnya.
Seperti kata Elina,“ Bagaimanapun keadaan kita
dan siapapun yang memiliki
keadaan sulit, janganlah merasa
kamu akan sulit karenanya.
Karena kita tidak bisa memilih
apapun dalam hidup kita, selain
bertanggung jawab terhadap
apa yang kita lakukan di masa
lalu. Tapi percayalah masa
depan akan indah bila kita
berusaha untuk menerima
keadaan kita.”
♦ Kupersembahkan kisah ini untuk
Elina,Sebuah nama dalam kenangan..semoga saat Valentine nanti kau bisa tersenyum bahagia meskipun tanpa Aku disampingmu.♦
Kisah ini merupakan repost dari Agnesdavonar.net, dengan sedikit perubahan.



